5 Perkataan Ini Justru Lebih Sering Melukai Korban Bencana

Beberapa masa-masa terakhir, Tanah Air memang tengah dilanda bencana. Belum usai kesedihan kita mengenai gempa di Palu sejumlah waktu lalu, kabar duka pulang menyelimuti masyarakat Indonesia. Pesawat Lion Ait JT 610 dengan rute pernebangan Jakarta-Pangkal Pinang jatuh sesudah 13 menit mengudara. Musibah tersebut diperkirakan menewaskan semua penumpang karena sampai kini belum terdapat satupun korban yang ditemukan dengan selamat.

Musibah ini pasti saja meninggalkan duka yang mendalam untuk masyarakat, khususnya keluarga dan orang-orang terdekat korban. Mereka kehilangan orang yang dicintai, disayangi dan dikagumi. Sebagian masih bercita-cita ada keajaiban untuk para penumpang pesawat ini. Tentu tidak sedikit yang hendak menunjukkan empati mereka pada family korban yang ditinggalkan. Apakah tersebut dengan ucapan ataupun sikap. Seorang pemakai Twitter yang adalah dokter sekaligus Psychiatric Resident, mempunyai nama dr. Jiemi Ardian (@jiemiardian) mengaku ada sejumlah hal yang usahakan tidak dibacakan kepada family korban. Karena kemauan kita untuk menolong pun kadang dapat melukai orang lain, bila anda tidak tahu apa yang butuh dilakukan. Misalnya sejumlah kalimat di bawah ini Menurut Agen Sbobet Bola .

5 Perkataan Ini Justru Lebih Sering Melukai Korban Bencana

5 Perkataan Ini Justru Lebih Sering Melukai Korban Bencana

1. Coba bayangin gimana perasaanmu mendengar urusan ini ketika ditimpa bencana?

Berdasarkan keterangan dari dr. Jiemi, kalimat laksana ini lebih baik nggak anda utarakan untuk mereka yang tengah ditimpa musibah atau bencana. Meskipun anda mungkin percaya bahwa bencana ini datang sebagai “hukuman” dari Yang Maha Kuasa, namun melontarkannya untuk mereka, family korban terutama, justru akan menyakiti mereka. Cobaan yang udah lumayan menyakiti mereka, bakal semakin meningkat rasa sakitnya dengan kalimat tersebut. Mungkin justeru nanti dapat memicu emosi atau kemarahan mereka.

2. Lebih baik memperhatikan dengan empati dibanding ngucapin urusan ini

Kalimat satu ini barangkali seringkali anda dengar atau bahkan anda ucapkan untuk orang-orang yang sedang ditimpa bencana. Alih alih mengungkapkan empati, kalimat ini justeru terkesan palsu. Karena telah jelas anda tidak mengerti. Kita bukan di posisi mereka. Jadi menurut keterangan dari dr. Jiemi, anda tak butuh ungkapkan kalimat empati yang tidak empatik, lumayan dengarkanlah dengan empati.

3. Belum saatnya anda ngomongin ini. Dia masih dalam kesedihan

Tipikal orang Indonesia memang laksana ini. Seperti apapun bencana yang menimpa, tentu tetap terdapat “untung”nya. Misalnya kemalangan terus kaki atau tangan patah, tentu ada yang bilang ‘untung nggak parah-parah amat’. Atau contohnya rumah hangus terbakar, maka ‘untung pemiliknya nggak ikut terbakar’. Tapi menurut keterangan dari dr. Jiemi, urusan ini usahakan pun nggak anda ucapkan pada mereka yang sedang ditimpa bencana. Karena bukan saatnya guna meminta seseorang bersyukur saat dia baru saja terpapar bencana. Kita begitu fobia dengan emosi kesedihan, sampai saya dan anda butuh mengusirnya dengan mengajak seseorang bersyukur.

4. Mungkin kalimat ini benar, namun ini bukan teknik yang tepat untuk mengindikasikan empati

Setiap kejadian yang terjadi barangkali selalu terdapat hikmah di balik itu. Namun pasti hikmahnya nggak dapat dirasakan atau diperoleh saat tersebut juga. Seperti yang dibilang dr. Jiemi, barangkali kalimat ini benar, tapi tidak boleh dulu memaksa seseorang yang baru saja kehilangan orang yang disayangi untuk menggali hikmah. Jangan fobia dengan kesedihan, kesedihan tersebut baik. Mungkin semua korban atau family korban akan menikmati hikmah tersebut nanti dengan sendirinya, tanpa perlu anda ingatkan.

5. Mereka tengah menikmati kesedihan. Mengucapkan urusan ini belum berarti apa-apa untuknya

Ketika kita menikmati kesedihan, pasti nggak terdapat keindahan yang dapat dirasakan di ketika yang sama. Oleh sebab itulah, kalimat “semua akan estetis pada waktunya” nggak perlu anda lontarkan pada mereka yang tengah ditimpa musibah. Sebaiknya anda tidak menyuruh seseorang yang sedang kecil hati untuk menggali keindahan di masa depan. Berempatilah sejenak, ijinkan dirinya menikmati kesedihan. Biarkan keindahan itu dialami dengna sendirinya, tanpa butuh diberitahu sekarang.

Dibandingkan 5 kalimat di atas, bakal lebih baik andai kamu menggantinya dengan kalimat-kalimat laksana “apa yang dapat aku kerjakan untuk membantumu”, “kamu tidak sendiri, kami di sini bareng kamu” atau kalimat beda yang diterangkan oleh dr. Jiemi. Kita masih dapat menunjukkan rasa empati dengan kalimat-kalimat ini, tanpa melukai atau menyebut perasaan mereka. Dengan kalimat-kalimat ini, anda udah menunjukkan bila kamu peduli terhadap mereka.

Beberapa orang malah memilih guna nggak mengindikasikan empati mereka dengan omongan, tapi malah mendengarkan, menyerahkan pelukan erat, atau meluangkan bahu guna bersandar. Karena orang-orang yang tengah dilanda bencana hanya perlu kehadiran anda di sisi mereka, bukan ucapan-ucapan yang kadang anda nggak tahu ternyata malah melukai mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *